Rabu, 12 Februari 2025

Dari Ibrahim ke Muhammad: Perjalanan Menemukan Dua Kalimah Syahadat

Mang Anas Pendahuluan لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ Lā ilāha illā Allāh, Muhammadur Rasūlullāh "Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah." Kalimah syahadat adalah inti dari ajaran Islam. Namun, apakah cukup hanya mengucapkannya dengan lisan tanpa benar-benar menemukan dan mengalaminya? Sejatinya, syahadat bukan sekadar kata-kata, tetapi sebuah perjalanan panjang menuju pemahaman hakiki tentang Tuhan dan kehidupan. Seperti halnya Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad, setiap manusia harus mendaki dan mencari kebenaran hingga menemukan dan membuktikannya sendiri. Dalam artikel ini, kita akan melihat bagaimana perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad mencerminkan makna mendalam dari syahadat, serta bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari pengalaman mereka. --- 1. Lā Ilāha: Menolak Tuhan-Tuhan Palsu dan Memulai Pencarian Ibrahim: Skeptisisme Konstruktif dan Pencarian Tuhan Sejati Nabi Ibrahim lahir di tengah masyarakat penyembah berhala, tetapi ia tidak menerima tradisi itu begitu saja. Dengan akal dan hati nurani, ia mempertanyakan keyakinan yang diwarisi kaumnya. Al-Qur’an menggambarkan pencariannya: Ketika melihat bintang, ia berkata, “Ini Tuhanku.” Ketika bintang tenggelam, ia berkata, “Aku tidak suka kepada yang tenggelam.” Begitu pula dengan bulan dan matahari, hingga akhirnya ia menyatakan, “Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan-Nya.” (Al-An’am: 74-79). Ibrahim tidak menerima sesuatu tanpa bukti. Ia mencari, mempertanyakan, dan akhirnya menemukan kebenaran sejati. Muhammad: Kegelisahan Spiritual dan Perjalanan ke Gua Hira Nabi Muhammad juga mengalami pencarian yang sama. Hidup di Mekah, ia melihat kaumnya menyembah berhala dan hidup dalam ketidakadilan sosial. Hatinya menolak realitas itu, tetapi ia belum menemukan jawaban. Untuk itu, beliau sering menyepi di Gua Hira, merenungi hakikat kehidupan dan Tuhan yang sejati. Ini adalah fase pencarian, di mana ia mencabut kepercayaan lama dan membuka diri terhadap kebenaran yang lebih tinggi. > Kesimpulan: Sebelum seseorang bisa berkata Lā ilāha, ia harus mengalami penolakan dan pencarian. Keimanan sejati tidak datang dari sekadar warisan budaya, tetapi harus ditemukan dan dialami sendiri. --- 2. Illā Allāh: Menemukan dan Mengalami Kebenaran Sejati Ibrahim: Kesadaran Penuh akan Tauhid Setelah menolak tuhan-tuhan palsu, Ibrahim menemukan bahwa hanya Allah yang layak disembah. Ia mencapai kesadaran penuh bahwa Tuhan sejati bukanlah sesuatu yang bisa dipahami secara dangkal oleh manusia, tetapi harus ditemukan melalui perjalanan intelektual dan spiritual. Ketika kaumnya terus menolak, ia berkata: "Apakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak pula memberi mudarat kepada kamu?" (Al-Anbiya: 66). Tauhid Ibrahim bukan sekadar teori, tetapi pengalaman langsung yang diperolehnya melalui pencarian dan pemikiran mendalam. Muhammad: Pengalaman Wahyu Pertama Saat berusia 40 tahun, dalam salah satu malam di Gua Hira, Nabi Muhammad mengalami momen transformasi terbesar. Malaikat Jibril datang dan memerintahkannya: "Iqra’" (Bacalah!) Pada titik ini, Muhammad tidak lagi mencari, tetapi telah menemukan. Ia mengalami langsung kehadiran Tuhan, dan itu mengubah dirinya selamanya. > Kesimpulan: Setelah fase Lā ilāha (penolakan dan pencarian), seseorang harus mencapai Illā Allāh (kesadaran dan pengalaman langsung tentang keesaan Tuhan). --- 3. Muhammad: Kesaksian dan Ujian Keimanan Ibrahim: Ujian Keteguhan Tauhid Setelah menemukan kebenaran, Ibrahim harus membuktikan keyakinannya: 1. Dilempar ke dalam api oleh Raja Namrud, tetapi Allah menyelamatkannya. 2. Diperintahkan menyembelih putranya, Ismail, untuk menguji totalitas kepasrahannya kepada Allah. Dua ujian ini menunjukkan bahwa iman sejati bukan sekadar pemahaman, tetapi harus teruji melalui pengalaman nyata. Muhammad: Cobaan dan Tekanan Sosial Nabi Muhammad juga mengalami ujian berat setelah menerima wahyu: 1. Cemoohan dan penganiayaan dari kaumnya. 2. Pemboikotan ekonomi dan sosial, membuat umat Islam menderita kelaparan. 3. Peristiwa Thaif, di mana ia dihina dan dilempari batu. Namun, ia tetap teguh. Imannya bukan sekadar teori, tetapi sesuatu yang telah ia alami dan yakini sepenuhnya. > Kesimpulan: Setelah menemukan kebenaran, seseorang harus bersaksi dengan teguh, meskipun menghadapi berbagai rintangan. --- 4. Rasulullah: Menyebarkan Kebenaran dan Membangun Peradaban Ibrahim: Membangun Peradaban Tauhid Setelah melewati berbagai ujian, Ibrahim: Membangun Ka’bah sebagai pusat ibadah tauhid. Mewariskan ajaran tauhid kepada generasi berikutnya. Menjadi bapak spiritual tiga agama besar (Islam, Yahudi, Kristen). Muhammad: Membentuk Masyarakat Islam Nabi Muhammad juga tidak berhenti pada dirinya sendiri. Setelah hijrah ke Madinah, beliau: Membangun komunitas Muslim yang berbasis tauhid dan keadilan. Menegakkan aturan sosial yang selaras dengan wahyu. Menyebarkan Islam hingga ke seluruh jazirah Arab. Pada akhirnya, beliau menyampaikan khutbah terakhir di Arafah, menegaskan bahwa misinya telah selesai. > Kesimpulan: Setelah menemukan dan membuktikan kebenaran, langkah terakhir adalah menyebarkannya dan membangun masyarakat berdasarkan nilai-nilai tersebut. --- Kesimpulan: Syahadat adalah Perjalanan, Bukan Sekadar Ucapan Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad mengajarkan bahwa syahadat bukan hanya kata-kata, tetapi sebuah proses mendaki dan menemukan. 1. Lā ilāha → Menolak kepercayaan yang salah dan memulai pencarian. 2. Illā Allāh → Menemukan dan mengalami kebenaran sejati. 3. Muhammad → Menjadi saksi dan membuktikan keimanan melalui ujian. 4. Rasulullah → Menyebarkan dan membangun masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam. > Pelajaran bagi kita: Jangan hanya menerima keimanan secara pasif. Temukan, pikirkan, dan alami sendiri. Keimanan sejati tidak datang dari hafalan, tetapi dari pencarian dan pengalaman langsung. Setelah menemukan kebenaran, kita bertanggung jawab untuk menyebarkan dan mengamalkannya dalam kehidupan. Semoga kita semua dapat menempuh perjalanan spiritual ini, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibrahim dan Muhammad.

Rabu, 23 Juni 2021

Esensi Martabat Tujuh didalam Surat Al Fatiha

By Mang Anas بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." ------ ◇◇◇ ---------- الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعٰلَمِينَ "Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam." - (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 1) Hakikat dari الْحَمْدُ adalah titik ب ia adalah mula dari segala sesuatu, di dalam kalimat الْحَمْدُ lah esensi kalimat الرَّحْمٰنِ dan الرَّحِيمِ itu berada yang kemudian mewujud menjadi raga dan jiwa dari alam semesta. Sifat hubungan الْحَمْدُ dengan اله adalah seperti sebuah biji dengan dengan putik yang ada didalamnya. الْحَمْدُ itu adalah umpama sebuah biji sedangkan اله adalah umpama putik yang ada didalamnya. Dengan demikian didalam kalimat الْحَمْدُ itu terhimpun didalamnya esensi اله _ الرَّحِيمِ dan الرَّحْمٰنِ. 1. Kata لِلَّهِ itu berasal dari kata اله yang merujuk pada Esensi Dzat Tuhan. Kedudukan اله ada pada Martabat Ahadiah. 2. Kata رَبِّ الْعٰلَمِينَ berasal dari kata ر ب ب yang merujuk pada esensi himpunan dari semua sifat. Kedudukan رَبِّ الْعٰلَمِينَ ada pada Martabat Wahdah ---------- ◇◇◇ ----------- الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ "Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang." - (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 2) مٰلِكِ يَوْمِ الدِّينِ "Pemilik hari pembalasan." - (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 3) 3. Kata الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ dan مٰلِكِ يَوْمِ الدِّينِ itu merujuk pada esensi Asma. Kedudukan kedua ayat itu ada pada Martabat Wahdiah. Pada hakikatnya Asma الرَّحْمٰنِ _ الرَّحِيمِ dan مٰلِكِ adalah induk dari semua asma. Didalam ketiga asma itu terhimpun didalamnya sembilan puluh enam asma lainnya. Dengan demikian asma - asma lain yang diluar ketiga asma itu secara hirarkhi akan berada dibawahnya. Semua asma akan melekat dengan kuat pada asma induknya masing - masing, dan kumpulan dari asma - asma itu membentuk sistem bersamanya. Asma asma itulah yang membentuk tata sistem dari alam semesta, asma jugalah yang mengatur dan yang menggerakkannya dibawah kendali Rabbul 'alamin. ---------- ◇◇◇ ---------- إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." - (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 4) 4. Kata إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ merujuk pada esensi Af'al atau perbuatan Allah. Kedudukannya ada pada Martabat Alam Ruh. Didalam Ruh ada Rahsa, didalam Rahsa ada Nur, didalam Nur ada Dzat. Hakikat dari إِيَّاكَ نَعْبُدُ adalah esensi energi yang nantinya akan meliput atau menyelubungi Mani dan Madi, sedangkan hakikat dari وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ adalah esensi energi yang nantinya akan meliput atau menyelubungi Wadi dan Manikam. Harokat Tasdid [ hentakan ] yang tersemat pada kata إِيَّاكَ adalah simbolisasi dari energi hidup yang didalamnya tersembunyi esensi dari asma Al khayyu [ yang Maha Hidup ] ---------- ◇◇◇ --------- اهْدِنَا الصِّرٰطَ الْمُسْتَقِيمَ "Tunjukilah kami jalan yang lurus," - (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 5) 5. Kata اهْدِنَا الصِّرٰطَ الْمُسْتَقِيمَ merujuk pada esensi dari tulung punggung dan Tulang Rusuk, tempat dimana bibit sperma berasal. Kedudukan ayat ini ada pada Martabat alam Misal atau alam Bapa. Tulang punggung yang bentuknya berupa bangun Vertikal itu menyimbolkan esensi dari potensi ketuhanan sedangkan tulang rusak yang bentuknya berupa bangun horizontal itu menjadi simbol diri insan atau diri manusia. Menurut literatur martabat tujuh didalam wujud Mani itu terhimpun didalamnya enam lapis esensi yang pada hakikatnya masih berupa potensi, yakni Madi, Wadi, Manikam, Siir, Siir Muhammad dan Nurullah. Unsur Mani, Madi, Wadi membentuk raga manusia. Unsur Manikam, Siir dan Siir Muhammad membentuk jiwa manusia, dan unsur Nurullah membentuk Ruh. Di alam inilah Allah Swt mengambil janji ketauhidan terhadap jiwa - jiwa sebagai mana firmannya, وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلٰىٓ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ  ۖ قَالُوا بَلٰى  ۛ شَهِدْنَآ  ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِينَ "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini," - (QS. Al-A'raf 7: Ayat 172) أَوْ تَقُولُوٓا إِنَّمَآ أَشْرَكَ ءَابَآؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِّنۢ بَعْدِهِمْ  ۖ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ "atau agar kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat?" - (QS. Al-A'raf 7: Ayat 173) Terkait dengan Mani, Madi dan Wadi, Allah Swt berfirman, خُلِقَ مِنْ مَّآءٍ دَافِقٍ "Dia [ manusia ] diciptakan dari air [ mani, madi dan wadi ] yang terpancar," - (QS. At-Tariq 86: Ayat 6) يَخْرُجُ مِنۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَآئِبِ "yang keluar dari antara tulang punggung [ sulbi laki - laki ] dan tulang dada [ tulang rusuk ]." - (QS. At-Tariq 86: Ayat 7) ------ ◇◇◇ --------- صِرٰطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ [ yaitu] jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; - ( QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6 ) 6. Kata صِرٰطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ itu merujuk pada esensi Rahim ibu [ أَنْعَمْتَ ] . Kedudukan ayat ini ada pada Martabat alam Ajsam atau alam Ibu. Sebagaimana firman Allah, ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُّوحِهِۦ  ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصٰرَ وَالْأَفْئِدَةَ  ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ "Kemudian Dia menyempurnakan [ proses kejadiannya di dalam rahim ibu, mulai dari tahapan sel mani hingga kemudian tumbuh dan berkembang menjadi janin yang sempurna ] dan Dia meniupkan roh -Nya ke dalam- nya [ Janin ] dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, [ tetapi ] sedikit sekali kamu bersyukur." - (QS. As-Sajdah 32: Ayat 9) ---------- ◇◇◇ ---------- غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّينَ " bukan [ jalan ] mereka yang dimurkai, dan bukan [ pula jalan ] mereka yang sesat." - (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 7) 7. Makna tersirat dari Kata غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّينَ itu merujuk pada esensi Nafs atau Jiwa manusia, yang kepadanya Allah telah meng -ilhamkan Fujuroha [ الْمَغْضُوبِ dan الضَّآلِّينَ ] wa Takwaha [ غَيْرِ dan لَا ]. Sebagai mana firman - Nya. وَنَفْسٍ وَمَا سَوّٰىهَا "demi jiwa serta penyempurnaan [ ciptaan ] nya," - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوٰىهَا "maka Dia mengilhamkan kepadanya [ jalan ] kejahatan dan ketakwaannya," - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا "sungguh beruntung orang yang menyucikannya," - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا "dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 10) Kedudukannya ayat ini ada pada Martabat Alam Insan atau alam Nyata. Wallahu 'alam. Semoga artikel ini bermanfaat.